“Lina, sudahlah, kamu kembali saja ke tempat dudukmu” kata guruku. Kalimat itu tidak hanya kudengar sekali atau dua kali. Itulah kata-kata yang selalu kudengar setiap kali tiba giliranku untuk maju dan menyampaikan sesuatu di depan kelas semenjak aku TK hingga SMP.
“Sudah, tidak apa-apa. Lain kali kalau giliran kelompok kita presentasi, kamu duduk dan operasikan saja komputernya, tidak perlu ikut bicara.” Demikian kata teman-temanku bila ada tugas untuk presentasi di depan kelas.
Sejak dulu, aku selalu grogi bila ada di depan orang banyak. Saat aku mulai berjalan maju, pandangan mereka mulai mengikutiku. Saat aku berdiri di depan, pandangan mereka terfokus padaku. Dan saat aku mulai berbicara, rasanya pandangan mereka makin menusukku, membuat aku lupa hal apa yang ingin kusampaikan dan membuatku tergagap. Kalau sudah begitu, pandangan mereka terlihat seperti sedang mengejekku. Mengejekku yang gugup dan gagap.
Saat aku mematung di depan, guruku akan mencoba menyemangatiku. Dan ketika itu tetap tidak berhasil, mereka akan menyuruhku kembali ke tempat dudukku.
Dari teman-temanku, ada berbagai reaksi yang kuterima. Ada yang dengan santai berkata “Tidak apa-apa”. Ada yang bicara panjang lebar dan mencoba menyemangati agar aku bisa memperbaiki di kesempatan berikutnya, agar aku lebih percaya diri saat maju ke depan, dan macam-macam lagi. Ada juga yang hanya menatapku seolah berkata “Buang-waktu-saja”.
Banyak kata-kata terucap dari mereka, tapi tidak ada yang memberiku solusi yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. Orang tuaku tidak pernah mengerti masalah itu karena aku mampu berbicara lancar bila dengan sedikit orang. Aku sendiri tidak pernah berkonsultasi dengan siapapun karena aku malu dengan keadaanku. Aku berusaha mengatasi semuanya sendiri. Dan aku terus menerus gagal. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Ketika aku naik ke kelas 2 SMP, ada siswa baru pindahan dari luar kota. Namanya Gita. Ia pindah ke kota ini karena ayahnya yang pindah kerja. Pak guru menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk berteman akrab.
Ketika kami mendapat tugas untuk membaca puisi di depan kelas, aku sudah mulai merasa gugup. Dan benar saja, lagi-lagi aku gagal untuk berbicara dengan lancar. Aku kembali ke kursiku dengan lesu. Aku malu tentu saja. Tapi yah, biasanya juga begini, jadi ya sudah. Sementara itu Gita membaca puisinya dengan begitu lancar dan indah.
Saat istirahat aku dan Gita duduk berdua di taman. Dia menanyakan padaku mengapa aku begitu gugup saat membaca puisi. Aku hanya terdiam. “Ceritakan saja padaku, kalau kamu tidak mau orang lain tahu, aku akan merahasiakannya” katanya. Akhirnya kuceritakan masalah itu padanya. Apa yang membuatku gugup, dan ketidakmampuanku untuk mengatasinya.
Keesokan harinya, ia memberiku sebuah kantong kecil. Isinya sebuah batu kecil yang indah. “Dulu, aku juga sering gugup bila harus bicara di depan orang banyak” katanya. “Lalu, ayahku memberikan batu ini padaku. Ayah menyuruhku menggenggam batu ini setiap kali aku maju ke depan kelas. Katanya batu ini akan memberikan keberanian padaku sehingga aku bisa bicara dengan lancar.” “Apa tidak apa-apa memberikan barang sepenting ini padaku?” Gita menjawab sambil tersenyum “Tidak masalah. Sekarang aku sudah bisa bicara dengan lancar tanpa batu itu. Batu itu juga akan lebih berguna di tanganmu.”
Beberapa hari kemudian, ketika tiba giliranku untuk membaca karangan di depan kelas, kugenggam batu itu di tanganku. Kulihat Gita tersenyum padaku. Awalnya aku masih merasa gugup. Kutarik napas dan kugenggam batu itu lebih erat. Lama-lama bicaraku semakin lancar. Aku mampu membaca karanganku sampai akhir dengan cukup lancar, tidak tergugup dan harus duduk sebelum selesai seperti biasanya.
***
Sudah sekian tahun berlalu. Setelah lulus SMP aku dan Gita menjalani hidup kami masing-masing. Keluarganya pindah ke kota lain. Kami masih sering kontak melalui sms atau telepon.
Kupandang batu yang diberikan Gita padaku dulu. Batu yang sudah menemaniku hingga saat ini. Batu yang selalu kubawa saat aku mengikuti lomba baca puisi, membacakan pidato kelulusan dan menjadi pembicara di berbagai seminar.
Aku tersenyum mengingat kata-kata Gita dulu. Setelah kupikir-pikir, sebenarnya bukan batu itu yang membawa keberanian padaku. Seorang sahabat yang memberi semangat dan uluran tangan yang nyata. Hal itulah yang membuatku mampu menjadi seperti sekarang.